Misteri
Hega berubah.
Kemarin dia menjadi pendiam, walau dia mencoba terlihat ceria, tapi he can't fool me.
Apa sebenarnya yang ada dalam hatinya. Kemarin terakhir kami bertemu dia menatapku agal lama dengan wajah tanpa senyum sebelum akhirnya menghilang dibalik pintu. Aku hanya berdiri di sisi pintu lainya tanpa tahu harus mengartikan tatapan itu dalam kalimat apa.
Jika aku evaluasi hari kemarin, aku yakin tidak ada kalimat yang salah dari prilakuku. Karena sebenarnya bisa dibilang, kemarin aku dan dia tidak terlalu banyak bertemu. Jadi, aku benar2 tidak tahu apa yang dia rasakan. Dia tidak marah, tapi dia menjadi agak murung. Malah malam harinya dia bilang akan pulang cepat karena badannya kurang enak. Tapi kok hatiku bilang dia bohong ya? Kok aku merasa bahwa yang sedang tidak enak adalah hatinya, bukan badannya.
Sempat terfikir bahwa mungkin dia begitu karena dia merasa perasaannya semakin dalam padaku, sedangkan dia tahu itu tidak boleh terjadi. Maka dia berusaha membangun tembok diantara kami. Tapi entah lah, itu hanya dugaanku yang mungkin terlalu percaya diri. Pada dasarnya aku tidak terlalu suka misteri.
Sampai rumah, aku pandang lelaki itu. Dimatanya masih kulihat cinta yang sama seperti saat aku menikahinya. Tidak ada misteri dalam tatapannya. Itu bisa membuatku tenang dan tidur nyenyak semalam, tanpa Hega dalam mimpiku.
Hari ini aku kembali menghapus, satu rasa lagi dalam hatiku.

