Selasa | Januari 16, 2007

Dalam Hati

Aku tak habis fikir, bagaimana kemesraan ini bisa tercipta. Apalagi dengan dia, yang sudah lama kukenal. Aku tidak cukup gila untuk meneruskan keintiman komunikasi yang terjadi belakangan ini. Karena dia suami sahabatku.

Memang belakangan komunikasi kami cukup intens, itu karena kami terlibat di bisnis yang sama. Saat matahari tenggelam, kami masih terpaku di meja kerja di kantor masing2. Percakapan telfon ringan terasa sangat menghibur kepenatan malam. Namun tampaknya kenyamanan komunikasi via kabel ini menumbuhkan perasaan rindu saat tak bersapaan.

Sejak minggu lalu, kami saling menghindar secara otomatis. Kami tahu bahwa kami sudah terlalu nyaman dan kangen ini mulai mengganggu. Weekend ini kami makan bersama, berempat, dengan pasangan kami masing2. Kami tertawa bersama, namun hanya aku dan dia yang tahu bahwa kami bahagia berbicara di kabel saat malam tiba.

Sudah biasa kami mencium pipi saat bertemu & berpisah. Namun sejak kangen ini timbul, cengkramannya di lenganku menguat dan lututku bergetar ngeri. Baru kali ini aku sadari bahwa tubuhnya memiliki aroma. Mungkin karena biasanya aku tak peduli.

Sekarang aku baru bisa melihat, alasan kenapa sahabatku tertarik padanya. Mungkin karena dulu aku memang tidak tertarik mengenalnya dari dalam. Ternyata banyak sekali kecocokan antara kami. Lucu, semuanya kami sadari saat kami sudah sama-sama memilih.

Tak pernah ada cerita tentang aku dan dia, dan kedepannyapun tidak akan pernah ada cerita itu. Hari ini aku menulis hanya untuk mengeluarkan sisi gelap dari hatiku, bahwa aku ingin satu waktu berdua dengannya.

Posted by at 16:24:01 | Permanent Link | Comments (1) |
Komentar
1 - wah..wah..wah..hati-hati !!! jangan sampai menyakiti sahabatmu sendiri atau memang kamu sudah bersiap-siap akan kehilangan satu orang sahabat ? aduuh jujur, saya tidak suka kamu berbuat begini. jangan menusuk teman dari belakang. (Comment this)

Ditulis oleh: ciplok at 2007/01/17 - 12:20:18
Tulis komentar