Jumat pagi aku sudah dikejutkan oleh kedatangannya ke meja kerjaku. Dia meletakkan sebuah souvenier kecil yang disebutnya “oleh-oleh dari Spore”. Tak ada alasan bagiku untuk tidak memberikannya senyum termanisku
We chat for about 30mnt, it’s still fun, but I can feel something different from his eyes.
Wow, you nervous Ga? So you do like me? And you do miss me
Kulihat hatiku tersenyum saat itu. Menyenangkan mengetahui laki2 ini ternyata memang tertarik padaku. Tapi sayangnya, aku perasaanku sudah netral. Aku bisa tahu karena saat kami tengah berbincang, Gee lewat, dan aku menoleh padanya. Sosok Hega di depan mata seakan hilang beberapa detik. Too bad u don’t realize that Ga.
Hari berlanjut sore dan hampir tiap jam kami saling kontak via telfon, aku sekan berusaha menumbuhkan rasa nyaman itu lagi. Tapi, dipenutupan hari malam yang terjadi sebaliknya. I hate him. Terlalu malas rasanya untuk menceritakannya saat ini. Its about manner.
Congrat Ga, you just kick your self from my heart!
Pagi ini, saat aku malangkah ke lobby kantor, aku melihat sosoknya berdiri merokok di depan lobby. Jelas aku melengos pura2 tidak melihatnya. Aku tahu dia pasti melihatku. Benar saja, sesampainya aku di meja, telfon mejaku berdering. Ini terlalu pagi untuk orang menefol, it’s got to be him. And I damn right!
” Hey, udah datang.”
” Ini udah angkat telfon bukan?”
” Datang jam berapa tadi?”
” Delapan kurang. Ada apa?”
“Gak ada apa2, cuma mau tanya itu aja.”
“Ow, Ok then. Bye.”
Click !
Aku tersenyum menang.
You better be good Ga, if your not, you will be very sorry to lose me as a friend.
Teman datang dan pergi.
Tapi teman jeati akan tetap di hati,
dan akan sesekali kembali saat kita terjatuh.