Thursday, August 24, 2006

War is Over

Rabu pagi Hega menghubungi desk phone-ku, dan mulailah percakapan ini :

“Lo marah sama gue ya?”
“Memang dari kemarin gak ngerasa?”
“Ngerasa sih, tapi kemarin gue terlalu ruwet untuk nanya.”
“Lo tau gak gue marah kenapa?”
Lalu dia menyebutkan jawaban yang kurang tepat.
“Bukan itu tepatnya. Lo inget Jumat malam? Sopan gak kelakuan lo?”
“Ow, that part. Gue salah bgt! I’m so sorry.”
“Nah, thats all I want to hear. Dari kemarin kek…”
“Maaf, gue takut bgt liat sikap lo dan banyak bgt yang harus gue urus kemarin. Maafin gue ya..”
“OK, dimaafkan. Memang sebenarnya sih hari ini gue rencananya udah gak marah lagi, hehe…”
“Thank u ya.”
“Sama-sama, maafin gue ya kalo kemarin gue galak bgt!”
“Udah sewajarnya kok, hehe..”

Dan begitulah bagaimana kami berbaikan.
Pada dasarnya aku orang yang sangat mudah lupa, termasuk saat aku marah. Biasanya sejalan waktu aku lupa apa alasan marahku dan berakhir dengan biasa lagi, hihihi…

Malam harinya, seperti biasa, dia datang ke mejaku dan kami mulai tertawa lagi. I’m glad everythings end up good. Thanks Ga..

Posted by in 02:09:01 | Permalink | No Comments »