Rabu | Oktober 18, 2006

Bersamamu

Entah lelah ataukah memang aku membohongi hatiku sendiri.
Kau hadir dalam mimpiku semalam.
Itu karena kau merinduku ataukah aku yang merindumu?

Ataukah di satu titik hatiku yang terkeci, ada pengharapanku atasmu?
Hay kau mahluk yang penuh ketidak sempurnaan, sungguh aku tak tahu.
Bagaimana lagi caranya agar bisa total hilangkan kau dari hidupku.

Hidup kita adalah matinya, mati kita adalah hidupnya.
Kau letakkan dua nyawa dalam tanganku.
Tak ada jalan untuk kita.

Sejujurnya, satu-satunya jalan agar kita bisa bersama adalah kematiannya.
Namun, sejujurnya akupun tak tahu, apakah jika dia mati aku masih ingin hidup.
Apakah itu artinya, sesungguhnya akupun tak yakin, apakah aku ingin bersamamu?
Posted by at 12:59:04 | Permanent Link | Comments (1) |

Jumat | Oktober 13, 2006

Kau, Mereka, dan Dia

Minggu ini aku menikmati Orgs berkali-kali.
Tentunya dengan dia yang cukup beruntung untuk menjadi suamiku.
Mungkin adalah kau yang menyalakan api nafsu ini, tapi tidak mungkin kau yang menyelesaikannya.

Minggu ini kuhabiskan 2 batang rokok bersamamu.
Dan beberapa gelak tawa dengan orang selainmu.
Namun juga kuhabiskan sederatan detik tak berwaktu mencintainya.

Aku menyayangimu seperti aku menyayangi beberapa orang lain sepertimu.
Jika kau tanya saat ini; inginkah aku bersamamu?
Aku akan memegang tanganmu dan mengatakan :
"Maaf, aku tak bisa."

Posted by at 10:50:32 | Permanent Link | Comments (2) |

Kamis | Oktober 05, 2006

Apa yang kau lihat...

Kadang aku tidak mengerti, bagaimana caranya agar bayanganmu hilang dari otakku. Dengan kebencian yang kubangun, serta kemarahan yang kumiliki, aku tetap bertanya-tanya...
Sedang apakah dirimu?
Ingatkah kau padaku?
Rindukah kau padaku?

Saat wujudmu dihadapanku, aku tidak bisa memasang tatapan sayngku padamu. Aku takut.
Aku hanya bisa terlihat menyebalkan dan angkuh. Itu semata-mata karena aku takut.
Aku takut kau bisa melihat rasa sayang di dalam mataku.
Aku takut kau tahu bahwa aku selalu merindukanmu.

Aku takut sayang...
Lihatlah aku...konyol rasanya.
Aku hanya bisa melihatmu dari jauh dan menyiapkan tangan untuk menarikmu saat kau ingin terjatuh. Kau bisa mengandalkanku, aku tak akan biarkan kau jatuh.
Maafkan aku yang terlihat begitu meyebalkan.
Andai saja aku bisa mengatakan rasa ini padamu, mungkin dada ini tak akan sesesak ini.
Posted by at 10:27:08 | Permanent Link | Comments (3) |