Monday, December 11, 2006

Pesta di Minggu Sore

Aku tahu kau pasti ada disana, diantara kerumunan orang beraroma bunga. Aku berharap melihatmu, tapi aku juga setengah berharap agar kau tak dapat menemukanku. Bersamanya aku datang dan ingin pulang, setitik dirimu mungkin bermakna. Namun tampaknya Tuhan tidak berpihak padaku sore itu. Kau menemukanku. Tidak sengaja ataukah kau memang mencariku?

Saat kau layangkan kecupan dikulitku dan melingkarkan tanganku dipinggangku, aku tak bisa berkata lebih. Mata rindu itu tak biarkan aku mengelak. Beberapa detik dari kita ada dirinya, tak kah kau takut aku menamparmu? Beruntung aku menikahinya yang penuh pengertian. Dia tahu siapa dirimu, itu karena bersamanya aku bisa berbicara.

Bukan aku tak suka kau memelukku erat, tapi…tak ingatkah kau pada dia yang tengah menyusui putramu diumah saat kau memegang tanganku erat? Seakan kau berkata : “Seharusnya itu bisa menjadi Putra kita.”.
Kemarahan yang ada dimatamu bukanlah salahku. Kau pilih Ibunda atasku dan aku memilih dirinya yang mengutamakanku atas segalanya.

Kau tahu bahwa kau salah melangkah, tapi kau juga tau itu bukan salahku.
Sayang, hidup terus berjalan, kadang tidak ada jalan untuk kembali ke belakang. Jangan pernah kau membuyarkan semua yang telah kau miliki, karena aku tidak akan ada dimanapun menunggumu.
Ingatkah malam itu? Kau terdiam dari segala tanyaku, bagiku itu adalah jawaban.

Sehangat sentuhan tanganmu di sore yang lembab, seharum nafas yang kau hembuskan didepan hidungku, maafkan aku yang harus menolak ciuman hangatmu. Biarkan aku albumi sosokmu dalam gallery masa laluku. Bangkit dan berdirilah dengan tegak, kau adalah seorang Ayah bagi putramu. Didik dia dengan baik, ajarkan dengan pelajaran yang kau dapat tentang kita.

Jadikan ia lelaki yang mampu memilih masa depannya sendiri, dan bertanggang jawab dengan pilihannya.
Lelaki yang tahu bagaimana jujur pada kata hati.

Sore ini, terakhir kalinya aku biarkan kau menyentuhku, memelukku, tapi tidak dengan cium itu, aku tak akan bertukar jiwa lagi denganmu. Karena kau bukan lagi separuh jiwaku. Kau boleh tetap bermimpi dan membayangkan dirinya sebagai aku, tapi aku tak akan biarkan bayangmu hadir antara kepuasanku dengannya. Dia yang kupilih atasmu.

Posted by at 04:39:18 | Permalink | Comments (1) »

Thursday, December 7, 2006

Saat ini :

Stabil.
Itu kata yang tepat untukku menilai diriku saat ini. Tidak berapi2 dan berontak lagi. Tidak Dee, Gee, ataupun Hega, mampu menggangku tidurku lagi.

Kuakui, saat makan siang, ketika berpapasan dengan Gee, aku sempat berkata dalam hati : “He’s looking good today.”. Tapi hatiku hanya tersenyum sampai disitu. Tak kubawa lagi saat langkahku menjauh darinya.

Aku juga masih merasa iba saat Hega bilang badannya agak demam. Tapi aku tidak berlari padanya untuk meletakkan telapak tanganku diatas dahinya lagi.

Ia yang terbaring disampingku dengan penuh cinta membuatku berfikir bahwa, aku harus lebih kuat lagi menjaga hatiku. Mencoba membayangkan kehilangan dirinya membuatku hilang keceriaan. Mungkin ini bisa menjagaku saat ini, kurasa itu sudah cukup baik.

Hmm…I love the “S.ks” and I love to do it with u Beb!

Posted by at 08:12:31 | Permalink | Comments (1) »