Jantung-ku
Aku tahu bahwa aku sangat senang berteman denganmu.
dan aku juga cukup senang karena kau bisa berteman denganku.
Tapi aku tak pernah menyangka kita akan menjadi sedekat ini.
Sampai bingung aku harus senang atau takut.
Taukah kau bahwa jantungku berdebar kencang saat kau sentuhkan kepalamu ke kepalaku?
Sadarkah kau aku agak terkejut saat kau rapatkan dadamu ke pundakku?
Sungguh aku tidak pernah menyangka kita akan menjadi sedekat ini, secara fisik.
Kurasakan detak jantungmu mencepat kala kau merapat…
Kurasakan dengus nafasmu mengeras saat kau mendekat…
Ataukah itu hanya besar rasa-ku saja?
Ataukah kau menyimpan nafsu?
Apa kau punya nafsu padaku?
Apakah itu arti dari semakin panjangnya durasi telfon kita setiap hari?
Apakah itu implementasi dari sapaan sms-mu dipagi hari?
Apakah kau menyukaiku?
Adik kecil,
bukankah kita hanya teman?
Teman tertawa, …. teman menangis, …. tapi teman tidak mencumbu satu sama lainnya.
Dengan susah payah kukubur nafsuku padamu lebih dari 3 minggu yang lalu, semata-mata aku tak ingin kita hancur.
Sekarang, saat kau rapatkan tubuhmu padaku…
Aku harus bagaimana?
Kau pun tau betapa aku mencintainya bukan?
Dan kau tahu juga bahwa aku tak bisa hidup tanpanya.
Egoisnya aku karena ingin kalian berdua ada dalam hidupku.
Di hatiku yang paling dalam…
Aku sangat menikmati nafas-mu di wajahku.
Berjanjilah jangan meninggalkan kita, apapun bentuknya nanti.