Try to ignore him
Minggu berlalu, sosoknya hilir mudik disekitarku. Aku berusaha keras untuk tidak melihatnya. Bahkan saat dia berada hanya 1 meter dari tempatku berdiri, aku mencoba untuk tidak menoleh. Aku berjuang keras untuk menghilangkan perasaan ini. Itu karena aku dihadapkan pada nafsu yang beresiko.
Jika mata kami bertemu, nantinya aku bisa berkata :
"Bagaimana kalo kita ke tangga darurat dan berciuman?"
Pastinya kalo itu sampai terjadi, resikonya akan terlalu besar untukku, sedangkan untuknya adalah sebuah prestasi muda yang membanggakan.
Mungkin dia bingung dengan perubahan sikapku yang tadinya ramah menjadi acuh. Mungkin dia merasa bahwa ia telah melihat sosokku yang sebenarnya. Sosos yang sombong. Aku rasa itu resiko yang harus aku hadapi jika aku ingin selamat. Mata hangatnya terkadang membuatku merasa tidak tega untuk mengacuhkannya, tapi aku harus.
Entah sampai kapan aku harus begini, mungkin sampai perasaan ini mati.
Atau, sampai ia potong rambu? Biasanya aku bisa menjadi "ilfil" saat seorang laki2 potong rambutnya salah model. Hehehe... :)


apes gak sih kita ini??? (Comment this)