Jumat | Maret 09, 2007

Murung

Sudah 3 hari ini kulihat wajahmu murung.
Kali ini kau tidak bercerita pada siapapun, tak juga padaku.
Seserius itukah masalah yang kau hadapi?
Aku jadi ikut khawatir.
Konsentrasi kerjaku terganggu.

Aku bagai menunggu bom waktu.
Aku takut kau tak mampu jalani pernikahan yang baru saja kau mulai bulan lalu.
Walau aku memang tidak merasa dia yang terbaik bagimu,
tapi aku tidak berharap pernikahanmu berantakan.

Sudah pernah kukatakan padamu, beberapa hal yang harus kau ketahui.
Kau tak mendengarku, kau selalu menggapku bercanda.
Sayangnya kali itu aku serius kawan.

Ayolah tertawa...
Jangan buat aku khawatir.
Tak cukupkah coklat yang kuberi padamu kemarin?

Posted by at 14:38:23 | Permanent Link | Comments (1) |

Selasa | Maret 06, 2007

Look at your self

Aku benci dia.
Dia yang selalu menelfonmu setiap jam.
Dia yang selalu mencemburuimu.
Dia yang selalu mencurigaimu.
Walau memang kau SANGAT pantas dicurigai Tongue out

Aku yang tadinya tak peduli, menjadi peduli
Aku ingin kau tahu bahwa kau bisa bahagia tanpanya
Aku juga biarkan diriku berdiri di depanmu dan membuka matamu,
menyadarkanmu atas segala kebejatan yang pernah kau lakukan.

Aku memang tetap tidak menyukai tabiat istrimu,
(bukan kubilang bahwa aku lebih baik darinya),
tapi...lihatlah dirimu, tak lelah kah kau bertopeng?
Berpura-pura sayang padanya, lalu jatuh cinta padaku.

Sebagai teman aku sedih,
melihatmu selalu berpura-pura bahagia.
Posted by at 08:53:57 | Permanent Link | Comments (1) |

Jumat | Oktober 13, 2006

Kau, Mereka, dan Dia

Minggu ini aku menikmati Orgs berkali-kali.
Tentunya dengan dia yang cukup beruntung untuk menjadi suamiku.
Mungkin adalah kau yang menyalakan api nafsu ini, tapi tidak mungkin kau yang menyelesaikannya.

Minggu ini kuhabiskan 2 batang rokok bersamamu.
Dan beberapa gelak tawa dengan orang selainmu.
Namun juga kuhabiskan sederatan detik tak berwaktu mencintainya.

Aku menyayangimu seperti aku menyayangi beberapa orang lain sepertimu.
Jika kau tanya saat ini; inginkah aku bersamamu?
Aku akan memegang tanganmu dan mengatakan :
"Maaf, aku tak bisa."

Posted by at 10:50:32 | Permanent Link | Comments (2) |

Kamis | Oktober 05, 2006

Apa yang kau lihat...

Kadang aku tidak mengerti, bagaimana caranya agar bayanganmu hilang dari otakku. Dengan kebencian yang kubangun, serta kemarahan yang kumiliki, aku tetap bertanya-tanya...
Sedang apakah dirimu?
Ingatkah kau padaku?
Rindukah kau padaku?

Saat wujudmu dihadapanku, aku tidak bisa memasang tatapan sayngku padamu. Aku takut.
Aku hanya bisa terlihat menyebalkan dan angkuh. Itu semata-mata karena aku takut.
Aku takut kau bisa melihat rasa sayang di dalam mataku.
Aku takut kau tahu bahwa aku selalu merindukanmu.

Aku takut sayang...
Lihatlah aku...konyol rasanya.
Aku hanya bisa melihatmu dari jauh dan menyiapkan tangan untuk menarikmu saat kau ingin terjatuh. Kau bisa mengandalkanku, aku tak akan biarkan kau jatuh.
Maafkan aku yang terlihat begitu meyebalkan.
Andai saja aku bisa mengatakan rasa ini padamu, mungkin dada ini tak akan sesesak ini.
Posted by at 10:27:08 | Permanent Link | Comments (3) |

Jumat | September 01, 2006

NO More U !

Guess this is good bye.
Not because I can't have you in my life,
but it's because I don't want you.
Just stay away from me.
We're over.
And please don't give me that look.
It won't work anyway.
I won't miss you,
infact I already forget you now.

All we had is a memory.
You can keep that memories for your self,
I won't need it.
Sorry if that hurts you.
I've decide to have No More You in my life Smile.

Posted by at 12:42:08 | Permanent Link | Comments (2) |

Rabu | Agustus 30, 2006

Yes, I know...

Hay you,

I can see that.
Abd I can see it well.
You miss me.
But try to hide it from me.
It's OK.
You can hide as long as you want.
But I'm pretty damn sure you'll give up.
And by that time, I'll still be here for you.
You won't take me home,
but you can have me beside you.
I know,
that is the only way you can breath.

Hugs,
Me

Posted by at 20:43:53 | Permanent Link | Comments (0) |

Selasa | Agustus 29, 2006

Misteri

Hega berubah.
Kemarin dia menjadi pendiam, walau dia mencoba terlihat ceria, tapi he can't fool me.
Apa sebenarnya yang ada dalam hatinya. Kemarin terakhir kami bertemu dia menatapku agal lama dengan wajah tanpa senyum sebelum akhirnya menghilang dibalik pintu. Aku hanya berdiri di sisi pintu lainya tanpa tahu harus mengartikan tatapan itu dalam kalimat apa.

Jika aku evaluasi hari kemarin, aku yakin tidak ada kalimat yang salah dari prilakuku. Karena sebenarnya bisa dibilang, kemarin aku dan dia tidak terlalu banyak bertemu. Jadi, aku benar2 tidak tahu apa yang dia rasakan. Dia tidak marah, tapi dia menjadi agak murung. Malah malam harinya dia bilang akan pulang cepat karena badannya kurang enak. Tapi kok hatiku bilang dia bohong ya? Kok aku merasa bahwa yang sedang tidak enak adalah hatinya, bukan badannya.

Sempat terfikir bahwa mungkin dia begitu karena dia merasa perasaannya semakin dalam padaku, sedangkan dia tahu itu tidak boleh terjadi. Maka dia berusaha membangun tembok diantara kami. Tapi entah lah, itu hanya dugaanku yang mungkin terlalu percaya diri. Pada dasarnya aku tidak terlalu suka misteri.

Sampai rumah, aku pandang lelaki itu. Dimatanya masih kulihat cinta yang sama seperti saat aku menikahinya. Tidak ada misteri dalam tatapannya. Itu bisa membuatku tenang dan tidur nyenyak semalam, tanpa Hega dalam mimpiku.

Hari ini aku kembali menghapus, satu rasa lagi dalam hatiku.

Posted by at 10:16:13 | Permanent Link | Comments (0) |

Senin | Agustus 28, 2006

Hmmm...???!!

Entah apa yang membuatnya begini.
Entah kenapa dia selalu mencariku dan selalu ingin dilibatkan dalam aktivitasku.
Aku bukan bicarakan Hega lagi loh! Ini Dino, teman lamaku di kantor.
Dua hari yang lalu kami melakukan perjalanan kantor bersama, masih dalam kota sih, tapi itu menempatkan kami seharian bersama. Pulang dari perjalanan itu, tiap jam Dino selalu menghubungiku untuk hal2 yang tidak penting seperti...

"Hey, lo gimana kabar approval itu?"
"Bukannya 5 menit yang lalu lo baru telp gue untuk tanyakan hal itu juga dan gue jawab bahwa gue gak tau?"
"Oiya ya, eh..lo lagi apa?"
"Masih sama seperti 5 menit yang lalu, baca email."
"Ow...ok ..bye."
"Bye."

...dan belasan percakapan unusuall lainnya.

Parahnya lagi, aku merasa Dino tidak suka aku berkomunikasi dengan Hega lebih sering daripada dengannya. ( ...???...). Ada satu kesempatan saat aku sedang on line dengan Hega, Dino telp ke hp-ku, dan...

"Ya Din?"
"Lagi ngapain lo?"
"Lagi on line sama Hega. Kenapa?"
"Huhh, Hega melulu."
"Hah? Mang kenapa?"
"Gak apa, yaudah deh, bye."
Klik!

What? Thats weird man...

Lebih parahnya lagi, malamnya Hega bilang dia mau antar aku pulang di depan Dino.
Kontan Dino berkata : "Emang lo searah? Sama gue aja lah, kan gue searah."
Aku langsung menengahi dengan berkata :
"Gak apa2 Din, kan si Hega belum pernah tau rumah gue. Gue sama Hega aja."
Sambil segera pergi dari suasana aneh itu. Yaks, what the hell is that?
Are they forgeting something ? Man, I'm Taken!!
I don't like this kinda situation :(
Posted by at 12:35:37 | Permanent Link | Comments (0) |

Kamis | Agustus 24, 2006

War is Over

Rabu pagi Hega menghubungi desk phone-ku, dan mulailah percakapan ini :

"Lo marah sama gue ya?"
"Memang dari kemarin gak ngerasa?"
"Ngerasa sih, tapi kemarin gue terlalu ruwet untuk nanya."
"Lo tau gak gue marah kenapa?"
Lalu dia menyebutkan jawaban yang kurang tepat.
"Bukan itu tepatnya. Lo inget Jumat malam? Sopan gak kelakuan lo?"
"Ow, that part. Gue salah bgt! I'm so sorry."
"Nah, thats all I want to hear. Dari kemarin kek..."
"Maaf, gue takut bgt liat sikap lo dan banyak bgt yang harus gue urus kemarin. Maafin gue ya.."
"OK, dimaafkan. Memang sebenarnya sih hari ini gue rencananya udah gak marah lagi, hehe..."
"Thank u ya."
"Sama-sama, maafin gue ya kalo kemarin gue galak bgt!"
"Udah sewajarnya kok, hehe.."

Dan begitulah bagaimana kami berbaikan.
Pada dasarnya aku orang yang sangat mudah lupa, termasuk saat aku marah. Biasanya sejalan waktu aku lupa apa alasan marahku dan berakhir dengan biasa lagi, hihihi...

Malam harinya, seperti biasa, dia datang ke mejaku dan kami mulai tertawa lagi. I'm glad everythings end up good. Thanks Ga..

Posted by at 09:09:01 | Permanent Link | Comments (0) |

Selasa | Agustus 22, 2006

Sorry Ga...

Malam ini belum terlalu gelap.
Hega datang menghampiri mejaku. Dia tidak mengeluarkan suara apapun, bahkan memanggilku. Dia hanya menarik kursi dan duduk dibelakangku. Mau tidak mau aku harus membalikkan badan, karena tidak ada orang lain disekitarku.

Dia tersenyum, aku diam tak membalas senyumnya.
Dia memilih untuk tidak membahas apa2 tentang kemarahanku. Sebaliknya ia mencoba mencairkan suasana dengan membahas pekerjaan. Jelas aku bersikap tidak peduli. Aku hanya menjawab :

"Email aja ke gue apa yang lo butuh." lalu aku membalikkan kembali badanku menghadap komputer, memunggunginya.

Dia diam dan beranjak pergi tanpa berkata apapun.
Ketika sosoknya menghilang, aku menjatuhkan kepalaku keatas meja.
Tidak enak sekali rasanya menyakitinya. Awalnya hari ini aku menikmati masa pembalasan ini, tapi malam ini ada rasa sesal dalam hatiku.

Teman, andai saja kau cukup berani untuk mengucapkan kata "maaf", maka kita tak harus begini.

Posted by at 20:43:02 | Permanent Link | Comments (0) |
1 2 3